TERKENAL, oleh Avianti Armand



Oleh : Avianti Armand


Puluhan ribu orang antri untuk ikut audisi Idol setiap musimnya, di Amerika, maupun di Indonesia. Bersuara bagus atau tidak, bukan masalah. Ada yang dengan sadar mengikuti audisi ini hanya karena ingin masuk tivi.

Di Indonesian Idol sesi terakhir, kita cukup terhibur oleh ulah seorang pemuda yang menyanyikan lagu ciptaannya sendiri. "Neng neng nong neng nong nang nong neng neng nong neng nong nang nong neng neng nong neng nong nang nong neng neng nong neng...." Saya tidak tahu apa judulnya, karena baris di atas mendominasi hampir seluruh lagu. Ada juga pemuda lain yang benar-benar tone deaf, tapi dengan nekat menyanyi (atau berteriak), "Angin bawalah aku bersamamu..." Tak ada satupun juri, maupun kru tivi,  yang tahu lagu apa yang ia serukan.

Maka Tukul Arwana tidak salah jika ia dengan mengejek sering bilang, "Masuk tivi....masuk tivi....", karena memang banyak orang ingin sekedar masuk tivi. Itu adalah satu cara paling mudah untuk jadi terkenal.

Tapi kenapa orang ingin jadi "terkenal"?

Sulit mencari jawabnya. Tiap orang punya alasannya masing-masing. Yang jelas, terkenal punya konotasi  positif: "hebat", "berprestasi", dan hal-hal lain, yang akan memisahkan seseorang dari himpunan orang kebanyakan, meletakkannya di atas pedestal, di bawah lampu sorot dan jepretan blitz yang bertubi-tubi.And how does it feel? Great? Must be. But, why?

Terkenal berarti diterima dan dihargai. Semakin terkenal, semakin kita diterima dan dihargai. Kadang-kadang itu membuat kita melihat diri kita dengan/melalui mata orang lain. Tanpa kita sadari, diri kita yang "hebat" ini adalah sosok yang dibentuk oleh sebuah konsensi. Bisa jadi benar, bisa jadi ilusif. Apapun itu, "terkenal" menjadi semacam candu yang membuai kita dan membuat kita merasa "lebih baik". Jadi, tidak salah kalau banyak orang ingin terkenal, bukan? Tidak. Yang salah adalah apabila candu itu menjadi tujuan.

Kenapa salah?

Sebut saja saya kuno. Atau dinosaurus di era virtual. Tapi saya tumbuh dengan kesadaran untuk menghargai proses. Saya diajari agar tekun dan sabar menunggu, karena semua hal akan indah pada waktunya.

Dulu, makan durian adalah sebuah "festival", sebuah pesta karena kita telah menunggu tibanya musim buah ini selama hampir setahun. Sekarang, tinggal pergi ke Total Buah Segar, dan kita bisa makan durian kapan saja kita mau. Dulu, mencari data untuk skripsi mengharuskan saya pergi ke perpustakaan-perpustakaan di seantero Jakarta. Itupun seperti berjudi; belum tentu perpustakaan yang sudah jauh-jauh saya datangi punya buku yang saya cari. Sekarang, Mister Google menghemat waktu kita dengan menyediakan data yang tak terhingga banyaknya. Dulu, menjadi "arsitek terkenal" butuh tahunan, bahkan puluhan tahun, untuk bisa melahirkan terobosan-terobosan pemikiran dan pembaharuan-pembaharuan dalam karya. Sekarang, itu cuma urusan membalik telapak tangan.

Maafkan saya bila masih percaya bahwa: keberhasilan adalah buah kerja keras. Seorang arsitek senior yang saya kagumi menulis pada saya, "I don't want to be a famous architect. I would rather be a good architect...if possible. :)" Sebuah emoticon "senyum" menutup kalimatnya.

Saya sangat-sangat-sangat-sangat setuju dengan beliau. Menjadi arsitek yang baik lebih penting dari pada jadi terkenal. Dan menjadi arsitek yang baik tidak bisa instan. Saya selalu menganalogikan arsitektur dengan lari maraton. Butuh waktu yang lama, kedisiplinan, fokus, ketekunan, dan kemauan keras untuk melatih setiap otot dalam tubuh kita agar siap untuk menempuh jarak 42 kilometer itu. Kemampuan membaca konteks secara komperehensif, kepekaan terhadap skala dan proporsi, ketajaman intuisi, kemampuan bekerja dalam tim, kejituan menyelesaikan masalah di lapangan, dan kerendahan hati untuk menekan ego, semuanya tidak didapat dalam semalam. Arsitek yang baik bukan produk karbitan. Dan jika arsitek yang baik ini jadi terkenal, itu adalah hasil sampingan dari keringat dan debu yang mengerak di kulitnya.

Sayangnya, tak ada yang ingin melihat keringat dan debu. Jika durian bisa dibeli kapan saja, kenapa musti menunggu? Maka berbahagialah kita yang hidup di mana dorongan untuk menjadi terkenal didukung oleh media yang ada. Betapa mudah kita memamerkan apapun di dunia maya sekarang ini. Tanpa saringan, kecuali diri sendiri. Maka jangan heran kalau banyak arsitek yang membuat fan page dan dengan rajin mengunggah karya-karyanya di sana. Atau mengirimkan proyek-proyeknya ke situs-situs desain yang, seperti vacuum cleaner, menyedot apapun tanpa kurasi yang kritis. Apa dengan begitu saya mengatakan bahwa karya-karya yang masuk setara debu dan semua situs desain itu ceroboh? Kita tidak akan membahasnya di sini.

Yang jelas, "sindrom terkenal" itu juga mewabah di sini. Terus terang, saya sedih melihat kecenderungan arsitek-arsitek muda tanah air, mangga-mangga mengkal dan umbi-umbi pejal yang belum siap panen,  buru-buru ingin jadi terkenal, sehingga rela membayar untuk dibuatkan buku tentang biro atau konsultannya. Padahal, kalau menilik karya-karyanya, saya percaya mereka masih harus menempuh perjalanan yang lebih jauh. Akhirnya kita melihat buku itu sebagai alat marketing belaka. Publikasi harusnya punya bobot berita, bukan sekedar alat pencitraan dan propaganda.

Sindrom yang sama, saya duga, juga jadi bensin luar biasa yang mendorong arsitek-arsitek kita untuk berpameran ke luar negri. Dengan mengundang diri sendiri, dengan biaya sendiri, dengan tenaga sendiri. Saya sampai heran luar biasa. Saya tanya buat apa? Jawabannya: untuk menunjukkan pada dunia kondisi arsitektur di Indonesia. Saya tanya lagi, buat apa? Untuk membuka hubungan lintas negara dengan arsitek-arsitek manca negara. Saya tanya lagi, buat apa? Ternyata jawabannya berhenti di situ.

Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan itu. Saya hanya merasa bahwa upaya yang luar biasa itu kalau dipakai untuk bereksplorasi ke dalam, pasti hasilnya luar biasa. Saya selalu berpendapat bahwa arsitektur bukanlah obyek yang otonom, yang bisa dilepaskan dari konteksnya, dan karena itu bisa dipertandingkan dan diperbandingkan antara yang di sini dengan yang di sana. Itu akan jadi sebuah reduksi besar-besaran pada entitas yang seharusnya begitu penting untuk kehidupan kita. Arsitektur terikat tempat dan tiap tempat memiliki masalahnya masing-masing. Jika kita bisa memecahkan masalah-masalah kita, dan menghasilkan terobosan-terobosan pemikiran dan pembaharuan-pembaharuan dalam karya yang bisa menjawab masalah-masalah tersebut, dunia akan berpaling pada kita. Pada saat itu, saya percaya, baru kita bisa duduk bersama dan mengobrol dengan setara.

Tapi hari-hari ini, kesabaran mungkin barang langka. Jika bisa terkenal sekarang, mengapa menunggu besok atau nanti?

Temukan Avianti Armand di Facebook: 
http://www.facebook.com/notes/avianti-armand/terkenal/10150936758769218

comments powered by Disqus